Biarkan aku bercerita

 Pernahkah kamu melihat dan mendengarkan aku berceloteh tentang banyak hal?

Tak banyak orang yang tahu, tentang seperti apa aku sebenarnya, bila pun kamu menjadi salah satu yang kupercaya tuk mendengarkan semua kisahku, maka kamu orang yang beruntung, aaah tak apa kalau kau bilang aku berlebihan, tapi nyatanya memang iya, tak banyak yang bisa kuperlihatkan pada semua orang, karena aku selalu merasa kalau apa yang akan kita kubicarakan ini bukanlah sesuatu yang mereka sukai, dan aku tak ingin mendapatkan kritik dan penolakan keras dari lawan bicara, meski tentunya itu hanyalah berasal dari kekhawatiran ku saja.

Kamu, menjadi salah satu yang ingin kuajak berbicara, tentang betapa ajaibnya semesta tercipta, betapa besarnya kuasa-Nya atas semua keindahan dan kerusakan yang terjadi di dunia ini. 

Termasuk, hadirnya dirimu didalam hidupku ini. Meskipun orang lain bilang kenapa harus kamu? Tentu saja iyaa harus kamu.

Meskipun dirimu seringkali merasa tak percaya diri dan terus mempertanyakan kenapa, tak bisakah kamu lebih yakin lagi dan tunjukkan saja dirimu apa adanya, aku suka kepercayaan diri mu, bukan sikap keraguanmu. 

Aku tau, aku tak berhak meminta lebih waktumu tuk dihabiskan untuk bersamamu, rasanya akan banyak kesempatan lain yang terlewati, berapa berharganya itu.

Kamu tau, aku sering emosi bersikap kekanak-kanakan, menanggapi segala hal dengan perasaan, padahal bukan berarti aku tak bisa memakai logika ku tuk menyelesaikan itu, hanya saja saat dirimu yang menyampaikan, seolah seketika akalku menghilang.

Seringkali tangis mengalir begitu saja, bahkan sebelum aku sadar tentang apa yang membuatku sakit. 

Banyak ketakutan dalam diri ini, takut dirimu berpaling bila aku meminta kita usai disini dengan alasan menunggu waktu yang tepat. Namun juga tetap sakit rasanya ketika ada dalam sebuah hubungan yang tak terikat jelas itu, dengan dihantui berbagai ketakutan lain.

Ingin rasa setiap hari kita bertemu, dengan melihatmu lahap menyantap masakan yang susah payah kupersiapkan itu.

Jika saja kamu tahu, sebelumnya aku tak pernah serajin itu tuk memasak, tuntutan belajar memasak yang ibuku tekankan sebelumnya selalu kuabaikan.

Namun, ketika mengenalmu, dan kamu yang menilai baik terhadap masakan yang kubuat, rasanya senang sekali.

Tak perlu hal besar tuk membuatku tersenyum puas, dari hal-hal kecil seperti itupun bisa membuat hatiku berseri.

Yaa meskipun pada awalnya memang akupun sempat menolak tentang perasaan ini, karena aku tak ingin kecewa dan sakit hati, tapi dirimu yang berulang kali membuatku tersentuh, seolah hati ini memang harus kuberikan untukmu.

Aku selalu berdoa, agar aku tak memberikan hatiku pada orang yang salah, karena ketika aku jatuh hati, seakan akalku tak berfungsi sama sekali, hatiku yang mengambil alih, dan selalu ingin bersama dengan orang yg kusukai, seakan gila.

Akupun tak bisa menahan rasa peduliku ini, seolah setiap saat ingin kuperhatikan dirimu.

Aahhh kenapa pulaaa, rasanya sesakit ini....



Komentar